PENGARUH AKHLAK TERHADAP KEMISKINAN
Kemiskinan adalah sebuah
penyakit yang dapat dijumpai pada setiap masyarakat di sepanjang sejarah. Ia mungkin terjadi lantaran beberapa sebab,
seperti tidak adanya sistem ekonomi dan pemerintahan yang baik, terjadinya
penindasan satu golongan terhadap golongan yang lain, atau timbulnya kemalasan
dan hilangnya semangat untuk berusaha.
Di abad ini, kemajuan luar
biasa di bidang pembangunan material sangat disayangkan tidak mampu menciptakan
pemerataan di antara penduduk bumi. Hari demi hari, perbedaan tingkat
kesejahteraan antara yang kaya dan miskin justru semakin tajam. Di dunia yang serba “beradab” sekarang ini
pun, masih banyak sekali dijumpai orang-orang yang mati lantaran kelaparan atau
gizi yang tidak baik. Sementara di sisi lain, terlihat dengan sangat nyata
sebagian orang yang hidup dengan gelimang kekayaan yang tidak terkira.
Semua itu membuktikan bahwa
sistem ekonomi yang (telah) dipakai di dunia ini, seperti kapitalisme dan marxisme-komunisme,
telah gagal menjadi landasan pembangunan ekonomi suatu negara. Bukti sejarah
juga menunjukkan bahwa negara-negara yang menggunakan sistem di atas selalu
melakukan penjajahan dan sejenisnya terhadap negara-negara lainnya, khususnya
dunia ketiga (yang sedang berkembang).
Kemiskinan, dengan segala
penyebabnya, juga tidak dapat dipisahkan dari adanya pengaruh setiap individu
atau masyarakat yang sangat lemah nilai akhlak dan spiritualnya. Oleh karena
itu, menyodorkan sebuah pemikiran dan akhlak, kepada suatu masyarakat,
merupakan hal yang sangat penting. Sebab, dengan begitu, perang melawan kemiskinan
dapat menjadi fokus utama dan dapat dilakukan dengan cara yang tepat dan
akurat.
Boleh jadi, ada sebagian
kalangan yang beranggapan bahwa kemiskinan merupakan perkara yang dijunjung
tinggi dalam Islam. Jelas, ini merupakan anggapan yang keliru. Anggapan semacam
ini tentu muncul dari orang-orang yang malas, yang rela dengan kehidupan
serbakekurangan dan hina, dengan membawa alasan bahwa itu adalah sebentuk
kezuhudan.
Bertentangan dengan pendapat
mereka, Islam bukan saja menghindari kemiskinan, bahkan memandang bahwa
kekuatan ekonomi merupakan perantara untuk mewujudkan kehidupan yang baik.
Sementara kemiskinan dianggap sebagai dinding yang bersatu dengan dinding
kekafiran.
Dalam riwayat dikatakan bahwa
adalah sangat mungkin kemiskinan akan menghantarkan manusia kepada kekafiran (Safinah al-Bihâr). Islam, yang sangat
keras berupaya memerangi kekafiran, juga sangat keras memerangi kemiskinan.
Rasulullah saww bersabda, “Siapa saja yang tidak memiliki kebutuhan
kehidupan dunia, maka ia tidak memiliki kehidupan akhirat.”
Beliau juga bersabda, “Ya Allah, berkatilah kami dengan roti
ini. Kalau bukan karena roti, kami tidak
akan bersedekah ataupun shalat.”
Dalam hal ini, Amirul Mukminin
Ali bin Abi Thalib menyebut kemiskinan sebagai kematian, bahkan kematian yang
terbesar. Beliau berkata, “Kemiskinan
adalah kematian terbesar.”
Mengenal Kemiskinan
Dengan
melihat penyebab dan pengaruh kemiskinan, maka menjadi sangat penting bagi kita
untuk membahas dan mengenalinya.
Kemiskinan
bukan hanya masalah ekonomi, tetapi berkaitan dengan banyak sekali masalah
penyakit maknawi (spiritual) dan akhlak. Di mana saja ditemukan kemiskinan,
maka kebodohan, kelemahan, dan kurangnya keimanan juga akan ditemukan. Sebaliknya, di mana pun ditemukan
kebodohan, kelemahan, dan kurangnya
keimanan, maka di situ akan ditemukan pula kemiskinan.
Dapat
dipastikan, pabila dalam suatu masyarakat banyak ditemukan pemikir yang maju,
maka kehidupan materi mereka juga akan maju. Sebaliknya, masyarakat yang
pemikiran dan kebudayaan mereka terbelakang, kehidupan materi mereka pun juga
akan terbelakang.
Inilah yang menjadikan
negara-negara penjajah selalu berusaha menjadikan masyarakat di daerah
jajahannya tetap terbelakang dari sisi pemikiran dan budaya. Mereka selalu berusaha mencegah terjadinya
kemajuan pemikiran dan budaya pada masyarakat tersebut. Siasat seperti ini
merupakan cara yang paling baik dalam melanggengkan kekuasaan.
Karena
itulah, Imam Khomeini, pemimpin revolusi Islam, selalu mendorong kaum mustadh’afin (terjajah) untuk mengenali
cara-cara yang dilakukan oleh para penjajah. Beliau berkata, “Pabila kita dapat
berdiri sendiri dalam bentuk pemikiran, maka tidak ada satu kekuatan pun yang
akan mampu menghancurkan kita.”
Ya, dalam
setiap segi pertahanan dan pembangunan, selayaknyalah bila masyarakat kembali
kepada pemikiran dan pola budaya mereka sendiri, yaitu Islam. Pabila mereka
berpegang kepadanya, maka kekuatan Barat maupun Timur tidak akan pernah mampu
mengalahkan mereka. Al-Quran al-Karim menyeru masyarakat Islam untuk kembali
kepadanya. Allah Swt berfirman:
Maka mereka telah kembali pada diri-diri
(kesadaran) mereka.(al-Anbiyâ: 64)
Kekuatan
terbesar yang menjadikan masyarakat Islam terbelakang adalah menjauhnya mereka
dari pemikiran dan budaya mereka sendiri dan menggantikannya dengan pemikiran
dan budaya “orang lain”. Masyarakat yang merasa kagum dan selalu menjiplak
budaya selainnya akan kehilangan semua makna kemuliaan dan harga diri mereka.
Bahkan mereka akan sangat bangga bila mampu menjadikan diri mereka sendiri
sebagai budak bangsa lain. Dan dengan bangga pula mereka akan menyerahkan semua
kekayaan mereka kepada negara lain.
Ya,
masyarakat yang kehilangan kemerdekaan berpikir dan berbudaya akan hidup
laksana hewan piaraan yang patuh. Semua keinginan mereka akan muncul lantaran
mengikuti keinginan bangsa lain. Apapun yang dilakukan bangsa lain, mereka akan
mengikutinya. Bahkan keburukan yang
datang dari budaya bangsa lain pun akan mereka anggap sebagai seni.
Kemudian, semua aspek
kemerdekaan yang ada di dalam negerinya, mulai dari undang-undang, ekonomi,
politik, dan lain-lain, akan mereka ambil dari bangsa lain. Demikian pula dengan aspek budaya lainnya,
akan mereka hisap dengan penuh kepuasan dari bangsa luar, meskipun itu penuh
dengan racun kejahatan dan kerusakan.
Timur dan
Barat memang telah menggambarkan dan menggemborkan bahwa cara hidup mereka
adalah cara hidup yang ideal, meskipun itu sangat jauh dari kenyataan. Semua
propaganda seperti itu hanya akan mempengaruhi masyarakat yang tidak
berpijak pada dasar pemikiran mereka
sendiri. Dengan demikian, akal yang
sehat dan pemikiran yang lurus merupakan modal yang sangat bernilai bagi sebuah
masyarakat.
Amirul Mukminin Ali berpesan,
“Sesungguhnya kekayaan yang paling besar adalah akal. Dan kemiskinan yang
terbesar adalah kebodohan.” (Catatan
Kaki: Nahj al-Balâghah, mutiara
hikmah ke-37).
Beliau juga menyatakan, “Tidak
ada kekayaan melebihi akal dan tidak ada kemiskinan melebihi kebodohan.”(Catatan Kaki: Nahj al-Balâghah, mutiara hikmah ke-51) Dengan kata lain, dapat diungkapkan,
“Tuhanku, setelah Engkau memberikan akal, maka apalagi selainnya yang belum
Engkau berikan. Dan apabila Engkau tidak memberikan akal, maka adakah selainnya
yang Engkau berikan?”
Orang-orang yang hidup di dunia
ini dan hanya melihat sisi materi saja, yang beranggapan bahwa kekuatan dan
kekuasaan hanya diperoleh lantaran sisi yang terbatas ini, maka setiap langkah,
perbuatan, dan tujuan hidupnya hanya akan berasaskan pada pandangan dunia
materialisme saja. Keberuntungan dan kerugian, kebahagiaan dan kesusahan dalam
hidup ini, hanya akan diukur dengan beberapa tahun kehidupan di dunia yang
terbatas ini. Hukum yang berlaku di
antara mereka juga akan terbatas pada perhitungan nilai materi dan lahiriah
duniawi saja. Allah Swt berfirman:
Mereka mengetahui yang dhahir dari kehidupan dunia dan mereka telah
lalai terhadap kehidupan akhirat. (Rum: 7)
Sementara,
kehidupan, pabila dilihat dari cara pandang Imam Ali bin Abi Thalib—murid utama
Rasulullah saww yang telah ditunjuk sebagai gerbang kota ilmu Nabi, yang telah
mengenal dan menyaksikan alam keghaiban dan dunia penyaksian, dan yang telah
berkata, “Apabila semua tabir yang menutupi dibuka dan ditunjukkan kepada saya
segala sesuatu yang ada di baliknya, (itu) tidak akan lagi menambah keyakinan
saya”—adalah selain kehidupan materi, yakni kehidupan maknawi yang lebih luas
dan abadi. Kebahagiaan dan kesusahan,
keberuntungan dan kerugian, ditentukan oleh kehidupan ini.
Beliau berkata, “Kekayaan dan
kemiskinan adalah setelah dihadapkan kepada Allah Swt.” Artinya, kekayaan yang sebenarnya adalah
pahala surga yang mereka terima dari Allah Swt pada hari kiamat kelak.
Sebaliknya, kemiskinan yang sebenarnya adalah mereka yang dalam kehidupannya
kelak berada di dalam siksaan dan kemurkaan Allah Swt.
Ya, pada hari itu, setiap orang
yang datang dan di tangannya penuh dengan kebajikan, ia adalah orang yang kaya
dan beruntung. Setiap orang yang dalam kehidupan dunianya telah bekerja bagi
keberuntungan kehidupan akhiratnya adalah orang yang berbahagia. Sementara
orang yang menghabiskan umurnya secara sia-sia dalam kehidupan dunia ini, maka
di akhirat kelak ia akan hidup sebagai orang yang miskin dan menderita.
Allah Swt berfirman:
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk
dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang
berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah
Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.
(Fushshilat: 46)
Amirul Mukminin Ali dalam
khutbahnya berpesan, “Bukankah kalian tinggal di hari-hari yang penuh dengan
harapan, sedangkan di belakangnya adalah ajal.
Siapa saja yang beramal di hari-hari harapan sebelum ajal tiba, maka
amal telah bermanfaat baginya dan ajal tidak merugikannya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar