Sabtu, 02 Maret 2013

Penelitian Tindakan Kelas PAI



BAB I

PENDAHULUAN


A.       Latar Belakang Masalah

Pembicaraan mengenai pendidikan selalu diarahkan kepada guru. Guru selalu dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam oprasionalisasi pendidikan ditingkat sekolah. Sehingga ketika pendidikan dituding sebagai pihak yang bertantanggung jawab atas menurunnya kualitas sumber daya manusia, secara langsung guru merupakan pihak yang bertanggung jawab. Dengan demikian guru merupakan pihak yang sangat menentukan dan memegang peranan yang sangat penting terhadap kemajuan pendidikan yang bermuara pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (Sonhadji, 1990).

Berdasarkan paparan tersebut, guru memegang peranan yang sangat penting dan menentukan. Oleh karenanya, peningkatan kemampuan dan wawasan guru ini menjadi hal mutlak yang harus dilakukan agar guru dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Berbagai upaya dan strategi harus dilakukan dengan baik dan terancam agar kegiatan dan aktivitas guru tersebut terus meningkat dan dapat tercapai tujuan pendidikan yang telah direncanakan.

Berdasarkan pada pendapat tersebut Soekamto (2001) mengatakan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unsur penentu kelangsungan hidup manusia. untuk menghadapi tantangan pada masa mendatang, pendidikan nasional dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas manusia lndonesia seutuhnya. Upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para pakar, birokat dan politisi saja, melainkan juga menjadi tugas dan tanggung jawab guru dan orang yang berkiprah di bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, sebagai praktisi dan pemerhati bidang pendidikan dan pengajaran, perlu memikirkan dan mengambil langkah guna ikut berkiprah dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya, yaitu dengan meningkatkan mutu pendidikn diperlukan pembaharuan-pembaharuan strategi dalam pembelajaran.

Pembaharuan tersebut hendaknya dipahami dan dilakukan oleh guru, agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Untuk meningkatkan prestasi belajar, guru harus mampu memberikan motivasi kepada peserta didik, agar dalam kegiatan belajar mengajar anak memiliki keinginan untuk mcngetahui dan memahami materi yang disampaikan oleh guru. dalam kaitannya dengan motivasi, guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik dengan memperhatikan prinsip bahwa peserta didik akan bekerja keras bila ia mempunyai minat dan perhatian terhadap materi pembelajaran yang  disampaikan oleh guru. Dengan demikian, maka kualilas pcscrta didk akan lebih mengarah pada tujuan yang direncanakan dalam pendidikan. Hal ini senada disampaikan oleh Nurhadi dan Senduk (2003) bahwa kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilaksanakam untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Pembaharuan pendidikan tersehut tidak dapat dilakukan oleh satu komponen saja, melainkan harus ada kerjasama dengan komponen lain. Lewin (1948) mengatakan bahwa pembaharuan social sangat tergantung pada komitmen dan pemahaman anggota masyarakat yang terlibat dalam proses perubahan itu. Sclanjutnya Eliot (1997) mengemukakan bahwa perlunya kolaborasi dalam melakukan peruhahan-perubahan yang bersifal mendasar melului proses pcnclilian.

Dari beberapa pendapat tersebut menun.jukkan bahwa meningkatkan kualitas pendidikan itu merupakan tanggung jawab bersama antara guru, siswa, masyarakat, dan seluruh komponen pendidikan. Untuk melakukan perubahan dalam meningkatkan mutu dan kualitas pcndidikan guru sangat berperan, guru adalah orang kedua setelah orang tua yang  bertugas sebagai pentransfer ilmu pengetahuan kepada anak, untuk itu metode yang dilakukan guru sangat tergantung dari kreatifitas guru itu sendiri dalam menyampaikan isi materi kepada anak didik.

Fenomena-fenomena tersebut menjadikan tantangan bagi peneliti untuk dapat melakukan suatu perubahan dalam proses pembelajaran dagar dapat menghasilkan suatu prestasi belajar yang optimal. Perubahan proses pembelajaran tersebut dengan menawarkan suatu strategi pembelajaran inquiry sebagai upaya meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

Inquiry merupakan salah satu komponen dan penerapan pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning), yang bcrarti menemukan, menurut Nurhadi (2002) menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching And Learning). pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.

Strategi pembelajaran yang kurang melibatkan siswa akan menurunkan minat belajar siswa, sehingga motivasi belajar-nyapun akan menurun dan pada akhirnya prestasi belajar-nyapun tidak akan didapatkan hasil yang optimal. Strategi pembelajaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa merupakan metode belajar mengajar yang mengutamakan peran siswa aktif baik fisik, mental, maupun sosial. Berdasarkan pada kenyataan tersebut, intinya bahwa strategi belajar yang digunakan oleh guru sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik dalam belajar, menurut  Mulyasa (2002) untuk mencapai keberhasilan peserta didik dalam belajar, maka guru perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.      Mengurangi metode ceramah
2.      Memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta didik
3.      Mengelompokkan peserta didik sesuai dengan kemampuannya.
4.      Bahan harus dimodifikasi dan diperkaya
5.      Gunakan prosedur yang berfareasi
6.      Usahakan situasi belajar berusaha untuk mengembangkan kemampuan anak untuk bekerja sesuai dengan kemampuan
7.      Usahakan melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan.

Dari pendapat tersebut, menunjukkan bahwa kreatifitas dan kemampuan guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Siswa akan mempunyai prestasi belajar yang baik bila  dalam dirinya tertanam motivasi belajar yang kuat.

Berdasarkan fenomena yang ada, peneliti akan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (Action Research) dengan tujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan bahwa dengan strategi pembelajaran inquiry yang digunakan  oleh guru dalam proses pcmbelajaran, diharapkan mampu meningkatkan cara membaca Al-qur’ansiswa, dan pada akhirnya dapat meningkatkan pula prestasi belajar siswa.

Penelitian ini akan mendiskripsikan suatu upaya meningkatkan cara baca Al-qur’an. Penelitian Pendidikan (Action Research) strategi pembelajaran inquiry ini dilakukan pada siswa Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan pada siswa Kelas VIII Semester I pada mata pelajaran Alqur’an Hadits. Apakah dengan strategi pembelajaran Inquiry (menemukan) dapat meningkatkan cara membaca Al-qur’an siswa kelas VIIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan dalam belajar mata pelajaran Alqur’an Hadits Pokok Bahasan Pemahaman ayat-ayat Allah SWT suatu tantangan proses pencapaian tujuan pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah di era global saat ini untuk menghasilkan mutu pembelajaran yang optimal.

B.     Rumusan Masalah
Berdasakan pada latar belakang masalah tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
l. Apakah Strategi Pembelajaran inquiry dapat meningkatkan motivasi  siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan
2. Bagaiman prestasi belajar mata pelajaran Alqur’an Hadits untuk siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan. Dengan mengunakan strategi pembelajaran Inquiry (menemukan) ?


C.  Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah tcrsebut tujuan penelitian yang utama adalah untuk menghasilkan desain pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan cara membaca Al-qur’an siswa Madrasah Tsanawiyah. lebih khusus tujuan penelitian tindakan ini dimaksudkan dengan tujuan untuk :
1. Mengetahui  dan    mendiskripsikan     bahwa          strategi pembelajaran Inquiry dapat meningkatkan cara membaca Al-qur’an siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan.
2. Mengetahui dan mendiskripsikan bahwa prestasi belajar mata pelajaran Alqur’an Hadits untuk siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan, dengan menggunakan strategi pembelajaran inquiry (menemukan).
 
D.   Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan temuan-temuan mengenai strategi pembelajaran inquiry mata pelajaran Alqur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan, dan hasil yang diperolch dalam penelitian ini akan memberikan data empiric bagi kepentingan peningkatan kualitas pengajaran di Madrasah Tsanawiyah, khususnya yang bcrkaitan dengan upaya peningkatan motivasi dan prestasi hasil belajar siswa, secara praktis temuan penelitian ini dapat dijadikan dasar    pengembangan strategi pembelajaran, pengembangan metodologi pengajaran, dan pengelolaan kelas, disisi lain penelitian ini bermanfaat bagi :



1. Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan dalam meningkatkan kualitas pendidikan mata pelajaran Alqur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah, khususnya di Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan dengan strategi pembelajaran inquiry, dan pada Madrasah Tsanawiyah pada umumnya.

2. Madrasah Tsanawiyah
a. Memberikan bahan masukan dalam rangka pengembangan kurikulum sekolah agar tidak terpaku dengan cara-cara konvensionnl yang mapan. namun perlu disesuaikan dengan perubahan atau inovasi penyelenggaraan proses pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman.
b. Sebagai sarana untuk mengetahui atau menemukan hambatan dan kelemahan penyelenggaraan pembelajaran serta sebagai upaya memperbaiki dan mengatasi masalah-masalah pembelaran yang dihadapi di kelas, sehingga dapat menemukan cara yang tepat untuk meningkatkan prestasi belajar siswa sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.

3. Mapenda Kemenag Kabupaten Pamekasan
Sebagai masukan dalam proses pelaksanaan pembelajaran mengikuti, memperhatikan, dan menerapkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, sehingga kelemahan pelaksanaan pembelajaran di lapangan pendidikan dapat diperbaiki sesuai dengan saran dan rekomendasi dari hasil-hasil penelitian tindakan kelas (action research).

4. Literatur­
Sebagai bahan acuan bagi penelitian lain, yang melakukan penelitian sesuai dengan konteks penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitiun tindakan kelas (action research) meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Alqur’an Hadits dengan pengembangan  desain pembelajaran inquiry pada siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan, ini dirumuskan hipotesis sebagai bcrikut :

"Strategi pembelajaran dengan menggunakan pengembangan desain pembelajaran inquiry dimungkinkan dapat meningkatkan cara membaca Al-qur’an siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan pada mata pelajaran Alqur’an Hadits pokoh bahasan cara membaca al-qur’an.”


F. Penegasan Istilah

Beberapa istilah yang harus ditegaskan dalam penelitian ini, agar dalam pembahasan hasil penelitian akan mengarah pada uraian yang lebih spesifik sesuai dengan ruang Iingkup penelitian, diantaranya :

1. Inquiry
Inquiry merupakan salah satu komponen dari penerapan pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning), yang berarti menemukan. Menurut Nurhadi (2002) menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembela.jaran berbasis CTL (Contextual Teaching And Learning.). Pengetahuan  dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.

2. Motivasi Belajar
Motivasi dapat diartikan sebagai serangkaian usaha yang muncul dari dalam diri seseorang, sehingga seseorang memiliki semangat untuk melakukan sesuatu sesuai dengan harapan. Hoy dan Miskel (1987) menguraikan bahwa motivasi itu terdiri dari tiga komponen dasar, yaitu mengaktifkan cara membaca Al-qur’an, mengarahkan cara membaca Al-qur’an dan mempertahankan cara membaca Al-qur’an. Dengan demikian motivasi berhubungan dengan kemana cara membaca Al-qur’an diarahkan dan bagaimana mempertahankannya. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa motivasi memegang peranan penting dalam mencapai hasil belajar.

Motivasi dan prestasi hasil belajar dalam penelitian Tindakan Kelas (action research) ini adalah motivasi dan prestasi hasil belajar siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan dalam belajar mata pelajaran Alqur’an Hadits pokok bahasancara membaca Al-qur’an.

3. Prestasi Belajar
Gagne yang dikutip oleh Badawi (1987) mengatakan bahwa hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan tes, karena hasil belajar berupa ketrampilan intelektual, startegi kognitif, informasi verbal, keterampilan, dan nilai dan sikap.

Prestasi belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini, adalah prestasi belajar mata pelajaran Alqur’an Hadits pada siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan Tahun Pelajaran 2011/ 2012 pada semester II.












BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A. Motivasi Belajar

1.      Difinisi Motivasi
Kurt dan boone (1984) mengemukakan bahwa motivasi merujuk pada pengerahan daya perilaku yang ditujukan pada pencapaian kepuasan kebutuhan.

Selanjutnya Widayatun (1999) mengatakan bahwa motivasi itu mernpunyai arti dorongan atau mengarahkan. Motivasi inilah yang mendorong seseorang untuk berprilaku beraktifitas dalam pencapaian tujuan.

Dinald yang dikutip oleh Hamalik (2001) mengatakan bahwa motivasi adalah motivation is an energy change whitin the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction. Yang berarti motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Ada dua prinsip cara memandang motivasi,
(l)  Motivasi dipandang sebagai proses
(2) Menentukan karakter dari proses ini dengan melihat petunjuk-­petunjuk dari cara membaca Al-qur’annya.

Dari beberapa pendapat tcrsebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan dorongan yang datang dari dalam pribadi seseorang (intrinsik) ataupun datang dari luar pribadi (ektrinsik) untuk mencapai tujuan sesuai dengan keinginan pribadinya.

2.   Belajar
Belajar merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara dasar oleh siswa untuk mencapai tujuan. Winkel (1984) Mengatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental dan psikhis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai sikap.

Selanjutnya Sukirin (1984) mengatakan bahw belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja untuk merubah cara membaca Al-qur’an sehingga diperoleh kecakapan baru.

Hilgard yang dikutip oleh Pasaribu (1983) berpendapat bahwa Learning in the process, by wich an activity oreginites or is changed trough responding to a situation provided the changed can not be attributed to growth or the temporary sate of the organisme as in fatidue or under druges. Artinva belajar adalah suatu proses kegiatan yang menghasilkan aktivitas baru atau perubahan kegiatan karena reaksi lingkungan, perubahan itu tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan oleh perubahan atau kesadaran sementara, orang tersebut karena kelelahan atau karena obat-obatan, sehingga orang tersebut tidak sadar tcrhadap keadaan dirinya. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan pengetahuan, kecakapan dan cara membaca Al-qur’an. Perubahan itu diperoleh dengan latihan dan pengalaman bukan perubahan dengan sendirinya.
Selanjutnya Usman (2002) Mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan cara membaca Al-qur’an pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya. Menurut Burton (1944) berkaitan dengan pcrubahan dalam belajar artinya seseorang setelah mengalami proses belajar mengajar, akan mengalami perubahan cara membaca Al-qur’an, baik pengetahuannya, ketrampilannya maupun aspek sikapnya.

Hamalik (2002) mengatakan bahwa bela.jar adalah perubahan cara membaca Al-qur’an yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman.

Masalah pokok yang dihadapi dalam belajar adalah bahwa proses belajar tidak dapat diamati secara langsung dan kesulitan untuk menentukan kepada terjadinya perubahan cara membaca Al-qur’an belajarnya. Untuk menentukan kepada terjadinya perubahan cara membaca Al-qur’an tersebut hanya dapat diketahui bila telah mengadakan penilaian. Itulah sebabnya penilaian dan pengontrolan proses belajar dapat dilakukan bila proses belajar tcrsebut direncanakan dalam desain system belajar yang cermat.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan cara membaca Al-qur’an yang dilakukan secara sadar, baik itu perubahan pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan, dan perubahan tersebut dilakukan secara berkesinambungan.

2.      Motivasi Belajar
Motivasi merupakan salah satu unsur pokok dalam proses belajar mengajar, Killer (1993) membedakan motivai beajar menjadi 2 kelompok, yaitu motivasi yang ada dalam diri siswa dan motivasi yang ada dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan motivasi perlu dikembangkan desain pembelajaran yang sesuai. Startegi penmbelajaran inquiry adalah salah satunva. Menurut Hamalik (2002) motivasi belajar penting artinya dalam proses belajar siswa, karena fungsinya yang mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar. Karena itu, prinsip pergerakkan motivasi belajar sangat erat hubungannya dengan prinsip-prinsip belajar itu sendiri.

Ada beberapa prinsip belajar dan motivasi yang disampaikan oleh Hamalik (2002) agar mendapatkan perhatian dari pihak perencanaan pengajaran digunakan dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar. Prinsip tersebut dapat digunakan  oleh pendidik dalam mengupayakan peningkatan motivasi peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, sehingga didapatkan prestasi belajar yang optimal. Diantaranya :

a. Kebermaknaan
pelajarn akan bermakna bagi siswa jika guru berusaha menghubungkannya  dengan pengalaman masa lampau, atau pengalaman-pengalaman yang telah mereka miliki sebelumnya.
 Sesuatu yang menarik minat dan nilai tertinggi bagi siswa berarti bermakna baginya. Oleh sebab itu, guru hendaknya berusaha menyesuaikan pelajaran dengan minat para siswanya, dengan cara memberiknn kesempatan kepada para siswa berperan serta memilih.
b. Modelling
Siswa akan suka memperoleh cara membaca Al-qur’an baru bila disaksikan dan ditirunya. Pelajaran akan lebih mudah dihayati dan diterapkan oleh siswa, jika guru mengajarkan dalam bentuk cara membaca Al-qur’an model, bukan hanya dengan menceramahkan / menceritakan secara lisan. Dengan model cara membaca Al-qur’an itu, siswa dapat mengamati dan menirukan apa yang diinginkan oleh guru.

c.  Komunikasi Terbuka
Siswa lebih suka belajar bila penyajian terstuktur supaya pesan-pesan guru terbuka terhadap pengawasan siswa

d. Prasyarat
Apa yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnya mungkin merupakan faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan siswa dalam belajar, karena itu hendaknya guru berusaha mengetahui/mengenali prasyarat/prasyarat, akan mudah mengamati hubungan antara pengetahuan yang sederhana yang telah dimiliki dengan pengetahuan yang kompleks yang akan dipelajari.

e. Novelty
Siswa akan lebih senang belajar bila perhatiannva ditarik oleh penyajian-­penyajian yang baru (novelty) atau masih asing.

f. Latihan / Praktek yang Aktif dan Bermanfaat
Praktek secara aktif berarti siswa mengerjakan sendiri, bukan mendengarkan ceramah dan mencatat pada buku tulis.

g. Latihan Terbagi
Siswa lebih senang belajar jika latihan dibagi-bagi menjadi sejumlah kurun waktu yang pendek. Latihan yang demikian akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dibandingkan dengan latihan yang dilakukan sekaligus dalam jangka waktu yang panjang.


h. Kurangi Secara Sistimatik Palcsaan Belajar

Siswa perlu diberikan paksaan atau pemompa. Akan tetapi bagi siswa yang sudah mulai menguasai pelajaran, maka secara sistematik pemompa itu dikurangi dan akhirnya siswa dapat belajar sendiri.

i.     Kondisi Yang Menyenangkan
Siswa akan lebih senang melanjutkan belajarnya jika kondisi pengajarannya menyenangkan. ada beberapa cara yang dilakukan guru untuk menyenangkan proses pengajaran diantaranya :
1.      Hindari pengulangan hal-hal yang telah diketahui
2.      Suasana fisik kelas jangan membosankan
3.      Hindarkan terjadi frustasi yang dikarenakan situasi kelas
4.      Hidarkan suasana kelas yang bersifat emosional sebagai akitbat adanya kontak personal
5.      Siapkan tugas menantang
6.      Berilah pengetahuan tentang hasil yang dicapai siswa
7.      Beri hadiah / pujian yang pantas dari usaha yang dilakukan oleh siswa.

B.       Prestasi Belajar

Dalam Ensiklopedia (1971), prestasi merupakan kata yang berdiri sendiri berarti  produksi yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam kurun waktu tertentu.

Pendapat lain disampaikan oleh Wood Worth (1951) mengatakn bahwa prestasi (achievement) adalah actual ability and can be measured directly hy use of test. Artinya : Prestasi menunjukkan suatu kemampuan actual yang dapat diukur secara langsung dengan menggunakan tes.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil kerja seseorang yang dapat dilihat secara nyata oleh orang lain dan hasil kerja tersebut dapat diukur secara langsung dengan tes.

Beraitan  dengan prestasi, belajar akan lebih mudah dan dapat dirasakan bila belajar tersebut mengetahui hasil yang diperoleh. Kalau belajar berarti peruhahan­perubahan yang terjadi pada individu, maka perubahan-perubahan itu harus dapat diamati dan dinilai. Hasil dari pengamatan dan penilaian inilah umumnya diwujudkan dalam bentuk prestasi belajar.

Menurut Gegne yang dikutip oleh Badawi (1987) mengatakan bahwa hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan tes karena hasil belajar berupa ketrampilan intelektual, startegi kognetit; informasi verbal, ketrampilan, nilai dan sikap.

C.    Strategi Pembelajaran

Strategi merupakan suatu upaya, cara ataupun langkah-1angkah pendekatan untuk mencapai suatu tujuan secara optimal. Strategi pembelajaran tersebut tercapai sesuai dengan pendekatan tujuaan yang direncanakan.

Berdasarkan pada konteks penelitian ini startegi pembelajaran diarahkan pada startegi ang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual, diantaranya :
(1) Pengajaran berbasis masalah
(2) Pengajaran kooperatif
(3) Pengajaran berbasis inquiry
(4) Pengajaran berbasis tugas / proyek
(5) Pengajaran berbasis kerja
(6) Pengajaran berbasis jasa layanan. (Nurhadi dan Senduk, 2003)

1.  Pengajaran Berbasis Masalah

Pengajaran berbasis masalah (problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang mengunakan masa1ah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan dari materi pembelajaran (Nurhadi Dan Senduk, 2003). Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana belajar.
Menurut Ibrahim dan Nur (2000) Mengatakan bahwa pengajaran berbasis masalah dikenal dengan nama lain : Pembelajaran proyek, pembelajaran berdasarkan pengalaman, pembelajaran autentik, dan pembelajaran berakar pada kehidupan nyata. Peran guru dalam pengajararl berbasis masalah ini adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.

Ada beberapa ciri pengajaran berbasis masalah, diantaranya :
(a) Pengajuan pertanyaan atau masalah
(b) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
(c) Penyelidikan autentik
(d) Menghasilkan produk/ karya dan memamerkannya.

Pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu guru dalam memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. pengajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektual.



2.  Pengajaran Kooperatif

Pengajaran kooperatif (Cooperative Learning) memerlukan pendekatan melalui penggunaan kelompok kccil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan  kondisi belajar dalam mencapai tujuan (Hulubee, 2001 yang dikutip oleh Nurhadi dan Senduk, 2003).

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalah pahaman yang dapat menimbulkan permusuhan, pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa.

Abdurrahman dan Binton (2000) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata
.
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu systim yang didalamnya terkandung elemen-elemen yang saling terkait, diantaranya
(a) Saling ketergantungan positif
(b) Interaksi tatap muka
(c) Akuntabilitas individual
(d) Ketrampilan untuk menjalin hubungan antara pribadi atau ketrampilan sosial yang ­sengaja diajarkan.

Meskipun kerjasama merupakan kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari ­hari, untuk mengaktualisasikan konsep tersebut kedalam bentuk perencanaan pembelajaran atau program suatu pelajaran bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan peranan guru dan siswa yang optimal untuk mewujudkan suatu pembelajaran yang benar-benar berbasis kerja sama.

3. Pengajaran Berbasis Inquiry

Da1am pembelajaran dengan penemuan (inquiry) siswa di dorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep­ konsep dan prinsip-prinsip sendiri (Nurhadi dan Senduk, 2003).

Pembelajaran dengan penemuan (induiry) menupakan suatu komponen penting dalam pendekatan kontruksivistik yang telah memiliki sejarah panjang dan inovasi atau pembaharuan pendidikan. Belajar dengan penemuan mempunyai beberapa keuntungan. Pembelajaran dengan inquiry memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawabannya. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mendiri dan memiliki ketrampilan kritis karena mereka harus selalu  menganalisa dan menangani informasi.

4. Pengajaran Berbasis Tugas / Proyek

Pengajaran berbasis proyek / tugas terstruktur membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif dimana lingkungan belajar siswa di desain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman materi dalam suatu topic mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengokstruk (membentuk) pembclajarannya,dalam produk nyata.

Ada empat prinsip yang membantu siswa dalam perjalanan menjadi pembelajar mandiri yang efektif: Diantaranya :
(a) Membuat tugas bermakna jelas dan menantang
(b) menganekaragamkan tugas-tugas
(c) menaruh perhatian pada tingkat kesulitan, dan
(d) memonitor kemajuan siswa.

5. Pengajaran Berbasis Kerja

Pengajaran berbasis kerja memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang mcmungkinkan siswa menguraikan konteks tempat kcrja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut digunakan kembali di dalam tempat kerja.

Mengajar siswa di kelas adalah suatu bentuk  pemagangan, pengajaran berbasis kerja menganjurkan pentransferan model pengajaran dan pembelajaran yang efektif kepada aktifitas sehari-hari di kelas, baik dengan cara melibatkan siswa dalam tugas-tugas kompleks maupun membantu siswa dalam mengatasi tugas.

6.  Pegajaran Berbasis Jasa Layanan

Pengajaran berbasis jasa layanan memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa layanan dan pembelajaran akademis.

Strategi pembelajaran ini berpijak pada pemikiran bahwa semua kegiatan kehidupan dijiwai oleh kemampuan melayani.

D. Inquiry

Inquiry merupakan salah satu komponen dan penerapan pendekatan CTL (Contextual Taeching And Learning), yang berarti mcnemukan, menurut Nurhadi (2002). Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berhasis CTL (Contextual Teaching And Learning). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri, inquiry merupakan salah satu dari lima komponen penerapan pendekatan konstektual di kelas siklus inquiry sebagai berikut :
(1)   Observasi (Observation),
(2)   Bertanya (Questioning)
(3) Mengajukan Dugaan (Hipothesis)
(4) Pengumpulan Data (Data Gathering) dan
(5) Penyimpulan (Conclusion).

     Langkah-langkah kegiatan menemukan (inquiry) adalah sebagai berikut :
(1)  Merumuskan masalah
(2)  Mengamati dan melakukan observas
(3) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel  dan karya lainnya, dan
(4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru aGatheringtau audien lainnya.


E. Mata Pelajaran Alqur’an Hadits, Pokok Bahasan Sifat Wajib Bagi Allah SWT.

Dalam pokok bahasan ini salah satu cara mempelajari Alqur’an Hadits ialah dengan mengamati dan menghafalkan Sifat Sifat Wajib Bagi Allah. Misalnya : Memahami pengertian beriman kepada Kitab-Kitab Allah, baik ketika belajar di sekolah maupun di rumah.

Al-qur’an menurut bahasa adalah bacaan. Menurut istilah, Al-Qur’an adalah firman Allah SWT, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir. Dinamakan Al-Qur’an karena merupakan kitab suci yang harus dibaca, dipelajari, dan merupakan ajaran-ajaran wahyu terbaik.


Dalil/bukti kebenaran adanya kitab Al-Qur’an :

!$uZø9tRr&ur y7øs9Î) |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ $]%Ïd|ÁãB $yJÏj9 šú÷üt/ Ïm÷ƒytƒ z`ÏB É=»tGÅ6ø9$#  

Artinya : Dan kami telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnyadan menjaganya , …… (Q.S. Al-Maidah/5:48).














BAB III
METODOLOGI PENELITIAN


a.     Setting Penelitian dan Karakteristik Subjek

Penelitian pada bagian ini disebutkan, dimana penelitian tersebut dilakukan di Kelas VIII Semester I dan bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan wanita.

b.     Variable Yang Diselidiki

Pada bagian ini ditentukan variable-variable tersebut dapat berupa :
1.    Variable input yang terkait dengan siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi dan lingkungan belajar.
2.    Variable proses pelanggaran KBM seperti interaksi belajar mengajar.

c.     Rencana Tindakan

Pada bagian ini digambarkan rencana tindakan untuk meningkatkan pembelajaran :
1.    Perencanaan, yaitu persiapan yang dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai.
2.    Implementasi tindakan, yaitu diskripsi tindakan yang akan di gelar, scenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
3.    Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang prosedur-prosedur rekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari implementasi tindakan perbaikan yang dirancang oleh guru MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan.
4.    Analisis dam Refleksi,  yaitu uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan di MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan.dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang akan di gelar, personil yang akan dilibatkan serta criteria dan rencana bagi tindakan daur siswa berikut.

d.     Data dan Cara Pengumpulannya

Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang akan dikumpulkan yang berkenaan dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan yang di MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan Kelas VIII, yang akan digunakan sebagai dasar untuk menilai atau kekurang berhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang di cobakan di MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan. Format data dapat bias bersifat kualitatif, atau kombinasi keduanya.


e.     Indicator Kinerja

Pada bagian ini tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara explesit sehingga memudahkan verifikasinya untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi kesalahan konsep siswa MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Kelas VIII Semester I, misalnya perlu ditetapkan criteria keberhasilan dalam bentuk pengurangan ( jumlah jenis dan atau tingkat kagawatan ) miskonsepsi yang tampak dan patut diduga sebagai dampak implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.

f.      Tim Peneliti dan Tugasnya

Pada bagian ini hendaknya dicamtumkan nama- nama peneliti dan uraian tugasnya setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap minggu untuk kegiatan penelitian di MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Semester I.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Deskripsi Hasil Peningkatan membaca persiklus
Dari siswa yang di ambil di kelas VIII MTs Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan dengan objek penelitian 6 (enam orang siswa) yang terdiri dari 3 (tiga) orang berjenis kelamin laki-laki dan 3 (tiga) orang berjenis kelamin Perempuan dengan nama-nama sebagai berikut ;
NO
NAMA
ALAMAT
KELAS
1
Aang Fauzi
Larangan Luar
VIII
2
Fathor Rahman
Grujugan
VIII
3
Kusnandar
Lembung
VIII
4
Ana Fitriana
Grujugan
VIII
5
Firdusiyah
Larangan Luar
VIII
6
Mas’udah
Grujugan
VIII

Dari tes perbaikan pembelajaran siklus I diperoleh data sebagai baikut
Tabel 1
Basil tes akhir perbaikan pembelajaran Siklus I
Skor
Freknensi
%
80
1
3,2
75
3
9,6
70
5
16,1
65
6
19,3
60
9
29
55
7
22,5
Jumlah
31
100

Tabel diatas inenunjukkkan bahwa selebaran nilai terakhir yang dicapai siswa berkisar antara 55 - 80, nilai tertinggi 80 (1 orang), terendah 55 (7 orang) dan rata-rata kelas 6,3. dari tabel diketahui bahwa dari 31 orang siswa yang berhasil mencapai ketuntasan belajar (65%) dengan nilai minimal 65 sebanyak 15 orang (48,2%), sedangkan 16 orang (51,8% masih belum tuntas).
20
 
Jika dibandingkan dengan nilai-nilai ulaangan harian sebelum diadakan perbaikan pembelajaran (pra siklus) nilai tes akhir yang diperoleh pada siklus I mencapai 65 sudah terjadi peningkatan sebanyak 6 orang, atau dari 6 orang (19,3%) menjadi 9 orang (29%). Dengan demikian perolehan nilai dibawah 65 terjadi penuruan dari 22 orang (70%) menjadi 16 orang (51%) atau terjadi peningkatan sebesar 19%. Demikian pula rata-rata nilai antara. pra-siklus dan siklus I adalah 6,0 menjadi 63,02.
Dari hasil tes akhir diatas, menunjukkan bahwa sekalipun penggunaan konsep dan perkalian memmjukkan adanya peningkatan pada perbaikan pembelajaran siklus I akan tetapi secara keseluruhan masih jauh dari tingkat pencapaian
Kriteria keberbasilan yang ditetapkan yaitu 70% dari keseluruhan siswa (31 siswa) karena hmiya ada 15 orang siswa 41,8% yang mencapai nilai minimal 65.
Hasil tes diatas, terjadi pula dengan basil penilaian LKS, perbaikan pembelajaran pada sildus I diperoleh basil berikut

Tabel 2
Hasil penilaian LKS Perbaikan Siklus I
Skor
Frekuensi
%
80
2
6,42
75
3
9,6
70
4
12,9
65
7
22,5
60
15
48,3
55
-
0
Jumlah
31
100

Data hasil LKS pada tabel 2 diatas menunjukkan bahwa sebaran nilai LKS berkisar antara 60-80. dari selebaran tersebut diketahui pula bahwa nilai 60, 70, 75 paling banyak diiperoleh siswa seperti terlihat pads tabel. 2 diatas sekitar 83,7% sedangkan nilai terendah 60 (15 orang) dan nilai tertinggi adalah 80 (2 orang) dan rata-rata kelas adalah 65.
Sementara dari basil pengamatan terhadap aktivitas, partisipasi dan antusias siswa selama pembelajaran masih belum memperlihatkan kemajuan yang berarti, siswa masih terlihat pasif, kurang konsentrasi dan masih cenderung ramai. Ada kesan siswa kurang memperhatikan penjelasan penulis. Antusias siswa dalam menyelesaikan tugas/LKS belum terlihat jelas, diduga siswa masih menemui kesulitan perkalian, oleh karena itu pula kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal latihan dalam diskusi kelompok masih kurang maksimal. Dan tujuh kelompok diskusi hanya. 3 kelompok yang dapat menyelesaikan dengan benar.
Dari refleksi penulis bersama teman sejawat diperoleh data bahwa ketidak berhasilan dalam menyelesaikan soal dalam pembelajaran berlangsung dan dalam tes akhir disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1)      Penjelasan peikalian tidak menggunakan konsep dasar paimban, scbingga mash banyak siswa yang belum mengerti dalam perkalian.
2)      Pada waktu guru menjelaskan banyak siswa yang pasif, tidak bertanya walaupun masil belum mengerti.
3)      Pada waktu guru menjelaskan banyak siswa kurang memperhatikan dan ramai berbicara sendiri
4)      Siswa masih kurang mengerti tentang perkalian.
5)      Metode pembelajaran kurang relevan, massih terli-hat monoton (lebih banyak- ceramah).
Siklus II
Dari hasil tes akhir perbaikan pembelajaran siklus II diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 3
Hasil tes akhir perbaikan pembelajaran siklus II
Skor
Frekuensi
%
100
2
6,45
95
3
9,67
90
5
16,12
80
7
22,58
75
5
16,12
70
5
16,12
65
4
12,90
Jumlah
31
100

Tabel 3 diatas menunjukan. bahwa sebaran nilai tes akhir yang dicapai siswa pada Sikulus II berkisar antara 65 – 100. nilai tertinggi 100 (2 orang), nilai terendah 65 (4 orang) dan rata-rata kelas 8. dari tabel itu pula diketahui 31 orang siswa (100%) mencapai ketuntas belajar (65%) dengan nilai minimal 65 bila dibandingkan dengan perbaikan pembelajaran siklus I hasil siklus II menunjukkan adanya peningkatan, baik lihat dari sebaran nilai (dari 55 – 80 menjadi 65 – 100); nilai tertinggi (85 menjadi 100); nilai terendah (55 menjadi 65) rata-rata. kelas (dari 6,3 menjadi 8) maupun dilihat dari ketuntasan belajar siswa (dari 51,8%  menjadi 100%).
Data yang sama diperoleh dari basil penilsian LKS seperti pada tabel 4 berikut:
Tabel 4
Hasil penilaian LKS Perbaikan Pembelajaran Siklus II
Skor
Frekuensi
%
95
4
12,90
90
6
19,35
85
7
22,58
80
5
16,12
75
5
16,12
70
4
12,90
Jumlah
31
100

Dari data basil penilaian LKS diats menunjukkan bahwa sebaran nilau LKS pada siklus II berkisar antara. 70-95. dari sebaran tersembut diketahui pula bahwa nilai 85 paling banyak diperoleh siswa, (7 orang atau 22,58%), dan antusias siswa selama pembelajaran yang memang memperlihatkan kemajuan yang sangat berarti, dibandingkan pada siklus 1, siswa tidak lagi terlihat pasif atau kurang konsentrasi, dan sekalipun masih ditemukan beberapa orang siswa cenderung ramai, akan tetapi suasana kelas secara keseluruhan penulis dan mulai banyak yang bertanya jika penjelasan penulis belum dipahami.
Antusias siswa dalam penyelesaian tugas individual atau kelompok sudah tedihat jelas karena sudah mulai memahami konsep perkalian yang sudah dilengkapi dengan contoh penyelesaian perkalian. Oleh karena itu Pula, kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal latihan perkalian baik secara individu maupun kelompok sudah maksimal. Dari 7 kelompok diskusi, hanya satu kelompok yang masih salah dalam penyelesaian.
Hasil pengamatan, terhadap siswa ketika menyelesaikan perhitungan selama proses pembelajaran (evaluasi dalam proses) banyak mengalami kemajuan yang signifikan, dari 31 prang siswa hampir seluruhnya (27 orang atau 8,7%) yang menyelesaikan dengan benar, atau hanya ada 4 orang (12,9%) yang masih salah.
Daei hasil refleksi penulis bersama teman sejawat, diperoleh data babwa keberhasilan siswa dalam menyelesaikan soal selama. pembelajaran berlangsung dalam tes akhir didukung oleh sejumlah faktor berikut :
1)        Siswa sudah paham dan mengerti tentang konsep dasar perkalian
2)        Pada waktu guru menjelaskan siswa sudah menunjukkan sikap aktif, Saling  berebut untuk menyelesaikan soal-soal yang ditulis di papan tulis.
3)        Pada waktu pembelajaran berlangsung siswa juga mulai banyak mengajukan pertanyaan apabila ada penjelasan yang belum mengerti, dan tidak lagi ramai seperti pada siklus I.
4)        Siswa mulai memperhatikan penjelasan guru dengon contoh yang ditutis dipapan tulis, Serta menunjukkan sikap senang terhadap pelajaran maternatika.
5)        Penjelasan guru sudah diselingi dengan metode tanya jawab, pemberian tugas, dan menugaskan siswa untuk menyelesaikan soal dipapan tulis.

B.   Pembahasan Dari Setiap Siklus
Dari analisis dan sajian siklus I dan siklus II yang diperoleh dari hasil pengamatan, penyelesaian tugas/LKS dan tes akhir seperti dikemukakan diatas tampak bahwa perbaiikan pembelajaran menggunakan konsep dasar perkalian menunjukkan hasil sangat menggembirakan dan memenuhi harapan penulis. Jika sebelum perbaikan pembelajaran siswa menampakkan sikap pasif tidak bertarrya walaupun belum mengerti, kurang memperhatikan dan ramai, berbicara sendiri ketika guru menjelaskan, kesulitan untuk mengerti tentang perkalian dan menunjukkan sikap kurang senang terhadap pelajaran matematika., maka setelah dua kali siklus perbaikan pembelajaran, telah terjadi perubahan sikap siswa selama pembelajaran terutama sikap siswa terhadap mata pelajaran matematika.
Tingkat kebenaran penyelesaian soal-soal latilan selama pembelajaran melalui pemberian tugas/LKS juga mengalami kenaikan yang tinggi seperti dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 5
Perbandingan hasil penilaian LKS antara siklus I dan Sildus II

Siklus I
Siklus H
Kenaikan

Skor
F
%
Skor
F
%
skor
Tertinggi
80
2
32
100
2
6,45
20
Terendah
60
15
22,5
65
4
12,90
10
Rata-rata
6,5
6,5
17,9

Peralihan hasil tes akhir selama dua kali siklus pembelajaran, juga menunjukkan adanya penmgkatan yang sangat berarti, seperti pada tabel berikut:

Tabel 6
Perbandingan basil tes akhir antara siklus I dan siklus 11

Siklus I
Siklus II
Kenaikan
skor
Skor
F
%
Skor
F
%
Tertinggi
80
1
3,2
100
2
6,45

20
Terendah
55
7
22,5
65
4
12,90

10
Rata-rata
63,02
80,00

16,98
Ketuntasan
15 (48,3%)
31 (100%)
16
(51,6%)

Berdasarkan temuan diatas, pembelajaran matemarika di SD banyak tidak menggunakan konsep dasar perkalian, padahal dengan menggunakan konsep dasar perkalian perbaikan pembelajaran hasiInya sangat menggembirakan dan memenuhi harapan penulis untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika.



BAB V
PENUTUP
A.  Jadwal Penelitian

Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matrik yang menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir di MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan pada tanggal 02 Januari 2012 jam : 08.00 – 12.00 WIB.

B. Rencana Anggaran

Meliputi dukungan kebutuhan financial sebaesar Rp. 150.000,- untuk tahap persiapan, pelaksanaan penelitian dan pelaporan.

C.  Lampiran-lampiran

Bagian lampiran dapat berisi curriculum vitae ketua dan para anggota tim inti. Curiculu vitae tersebut memuat identitas ketua anggota tim peneliti, riwayat pendidikan pelatihan dibidang penelitian yang pernah diikuti, baik sebagai penatar atau pelatih maupun sebagai peserta, dan pengalaman dalam penelitian termasuk di PTK.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar