BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembicaraan mengenai pendidikan selalu diarahkan kepada guru.
Guru selalu dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam oprasionalisasi
pendidikan ditingkat sekolah. Sehingga ketika pendidikan dituding sebagai pihak
yang bertantanggung jawab atas menurunnya kualitas sumber daya manusia, secara
langsung guru merupakan pihak yang bertanggung jawab. Dengan demikian guru
merupakan pihak yang sangat menentukan dan memegang peranan yang sangat penting
terhadap kemajuan pendidikan yang bermuara pada peningkatan kualitas sumber
daya manusia (Sonhadji, 1990).
Berdasarkan paparan tersebut, guru memegang peranan yang
sangat penting dan menentukan. Oleh karenanya, peningkatan kemampuan dan
wawasan guru ini menjadi hal mutlak yang harus dilakukan agar guru dapat
melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Berbagai upaya dan strategi harus
dilakukan dengan baik dan terancam agar kegiatan dan aktivitas guru tersebut
terus meningkat dan dapat tercapai tujuan pendidikan yang telah direncanakan.
Berdasarkan pada pendapat tersebut Soekamto (2001) mengatakan
bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unsur penentu kelangsungan hidup
manusia. untuk menghadapi tantangan pada masa mendatang, pendidikan nasional
dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas manusia lndonesia seutuhnya. Upaya
meningkatkan kualitas manusia Indonesia
seutuhnya tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para pakar, birokat dan
politisi saja, melainkan juga menjadi tugas dan tanggung jawab guru dan orang
yang berkiprah di bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, sebagai
praktisi dan pemerhati bidang pendidikan dan pengajaran, perlu memikirkan dan
mengambil langkah guna ikut berkiprah dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia
seutuhnya, yaitu dengan meningkatkan mutu
pendidikn diperlukan pembaharuan-pembaharuan strategi dalam pembelajaran.
Pembaharuan tersebut hendaknya dipahami dan
dilakukan oleh guru, agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif
dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam
meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Untuk meningkatkan prestasi
belajar, guru harus mampu memberikan motivasi kepada peserta didik, agar dalam
kegiatan belajar mengajar anak memiliki keinginan untuk mcngetahui dan memahami
materi yang disampaikan oleh guru. dalam kaitannya dengan motivasi, guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar
peserta didik dengan memperhatikan prinsip bahwa peserta didik akan bekerja
keras bila ia mempunyai minat dan
perhatian terhadap materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Dengan demikian, maka
kualilas pcscrta didk akan lebih mengarah pada tujuan yang direncanakan dalam
pendidikan. Hal ini senada disampaikan oleh Nurhadi dan Senduk (2003) bahwa kualitas kehidupan bangsa sangat
ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk
menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka dan demokratis. Oleh karena
itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilaksanakam untuk meningkatkan
kualitas pendidikan nasional.
Pembaharuan pendidikan tersehut tidak dapat
dilakukan oleh satu komponen saja, melainkan harus ada kerjasama dengan komponen
lain. Lewin (1948) mengatakan bahwa pembaharuan social sangat tergantung pada
komitmen dan pemahaman anggota masyarakat yang terlibat dalam proses perubahan
itu. Sclanjutnya Eliot (1997) mengemukakan bahwa perlunya kolaborasi dalam melakukan
peruhahan-perubahan yang bersifal mendasar melului proses pcnclilian.
Dari beberapa pendapat tersebut menun.jukkan
bahwa meningkatkan kualitas pendidikan itu merupakan tanggung jawab bersama
antara guru, siswa, masyarakat, dan seluruh komponen pendidikan. Untuk
melakukan perubahan dalam meningkatkan mutu dan kualitas pcndidikan guru sangat
berperan, guru adalah orang kedua setelah orang tua yang bertugas sebagai pentransfer ilmu pengetahuan
kepada anak, untuk itu metode yang dilakukan guru sangat tergantung dari
kreatifitas guru itu sendiri dalam menyampaikan isi materi kepada anak didik.
Fenomena-fenomena tersebut menjadikan tantangan bagi peneliti
untuk dapat melakukan suatu perubahan dalam proses pembelajaran dagar dapat menghasilkan
suatu prestasi belajar yang optimal. Perubahan proses pembelajaran tersebut
dengan menawarkan suatu strategi pembelajaran inquiry sebagai upaya meningkatkan
motivasi siswa dalam belajar, yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi
belajar peserta didik.
Inquiry merupakan salah satu komponen dan penerapan
pendekatan CTL (Contextual Teaching And Learning), yang bcrarti menemukan,
menurut Nurhadi (2002) menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan
pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching And Learning). pengetahuan dan
ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat
fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Strategi pembelajaran yang kurang melibatkan siswa akan menurunkan
minat belajar siswa, sehingga motivasi belajar-nyapun akan menurun dan pada
akhirnya prestasi belajar-nyapun tidak akan didapatkan hasil yang optimal. Strategi
pembelajaran yang lebih menekankan pada aktivitas siswa merupakan metode
belajar mengajar yang mengutamakan peran siswa aktif baik fisik, mental, maupun
sosial. Berdasarkan pada kenyataan tersebut, intinya bahwa strategi belajar yang
digunakan oleh guru sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar peserta didik dalam
belajar, menurut Mulyasa (2002) untuk
mencapai keberhasilan peserta didik dalam belajar, maka guru perlu memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
1.
Mengurangi metode ceramah
2.
Memberikan tugas yang berbeda bagi setiap peserta
didik
3.
Mengelompokkan peserta didik sesuai dengan
kemampuannya.
4.
Bahan harus dimodifikasi dan diperkaya
5.
Gunakan prosedur yang berfareasi
6.
Usahakan situasi belajar berusaha untuk mengembangkan
kemampuan anak untuk bekerja sesuai dengan kemampuan
7.
Usahakan melibatkan peserta didik dalam berbagai
kegiatan.
Dari pendapat tersebut, menunjukkan bahwa
kreatifitas dan kemampuan guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran sangat
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Siswa akan mempunyai prestasi belajar
yang baik bila dalam dirinya tertanam
motivasi belajar yang kuat.
Berdasarkan fenomena yang ada, peneliti
akan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (Action Research) dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendiskripsikan bahwa dengan strategi pembelajaran inquiry yang digunakan
oleh guru dalam proses pcmbelajaran,
diharapkan mampu meningkatkan cara membaca Al-qur’ansiswa, dan pada akhirnya dapat
meningkatkan pula prestasi belajar siswa.
Penelitian ini akan mendiskripsikan suatu
upaya meningkatkan cara baca Al-qur’an. Penelitian Pendidikan (Action Research)
strategi pembelajaran inquiry ini dilakukan pada siswa Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun
Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan pada siswa Kelas VIII Semester I pada mata
pelajaran Alqur’an Hadits. Apakah dengan strategi pembelajaran Inquiry
(menemukan) dapat meningkatkan cara membaca Al-qur’an siswa kelas VIIII
Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan dalam
belajar mata pelajaran Alqur’an Hadits Pokok Bahasan Pemahaman ayat-ayat Allah SWT suatu tantangan
proses pencapaian tujuan pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah di era global saat
ini untuk menghasilkan mutu pembelajaran yang optimal.
B. Rumusan Masalah
Berdasakan pada latar belakang masalah
tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
l. Apakah Strategi Pembelajaran inquiry
dapat meningkatkan motivasi siswa kelas VIII
Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan
2. Bagaiman prestasi belajar mata
pelajaran Alqur’an Hadits untuk siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun
Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan. Dengan mengunakan strategi pembelajaran
Inquiry (menemukan) ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah tcrsebut
tujuan penelitian yang utama adalah untuk menghasilkan desain pembelajaran yang
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan cara membaca Al-qur’an siswa Madrasah
Tsanawiyah. lebih khusus tujuan penelitian tindakan ini dimaksudkan dengan
tujuan untuk :
1. Mengetahui dan mendiskripsikan bahwa strategi
pembelajaran Inquiry dapat meningkatkan cara membaca Al-qur’an siswa kelas VIII
Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan.
2. Mengetahui dan mendiskripsikan
bahwa prestasi belajar mata pelajaran Alqur’an Hadits untuk siswa kelas VIII
Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan, dengan
menggunakan strategi pembelajaran inquiry (menemukan).
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, penelitian
ini diharapkan dapat menghasilkan temuan-temuan mengenai strategi pembelajaran
inquiry mata pelajaran Alqur’an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun
Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan, dan hasil yang diperolch dalam penelitian
ini akan memberikan data empiric bagi kepentingan peningkatan kualitas
pengajaran di Madrasah Tsanawiyah, khususnya yang bcrkaitan dengan upaya
peningkatan motivasi dan prestasi hasil belajar siswa, secara praktis temuan
penelitian ini dapat dijadikan dasar pengembangan
strategi pembelajaran, pengembangan metodologi pengajaran, dan pengelolaan kelas,
disisi lain penelitian ini bermanfaat bagi :
1. Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan dalam
meningkatkan kualitas pendidikan mata pelajaran Alqur’an Hadits di Madrasah
Tsanawiyah, khususnya di Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan
Larangan Pamekasan dengan strategi pembelajaran inquiry, dan pada Madrasah
Tsanawiyah pada umumnya.
2. Madrasah
Tsanawiyah
a. Memberikan bahan masukan dalam rangka pengembangan kurikulum sekolah agar
tidak terpaku dengan cara-cara
konvensionnl yang mapan. namun perlu disesuaikan dengan perubahan atau inovasi penyelenggaraan
proses pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman.
b. Sebagai sarana untuk mengetahui
atau menemukan hambatan dan kelemahan penyelenggaraan pembelajaran serta sebagai
upaya memperbaiki dan mengatasi masalah-masalah pembelaran yang dihadapi di
kelas, sehingga dapat menemukan cara yang tepat untuk meningkatkan prestasi belajar
siswa sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.
3. Mapenda Kemenag
Kabupaten Pamekasan
Sebagai masukan dalam proses pelaksanaan pembelajaran
mengikuti, memperhatikan, dan menerapkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, sehingga kelemahan pelaksanaan pembelajaran
di lapangan pendidikan dapat diperbaiki
sesuai dengan saran dan rekomendasi dari hasil-hasil penelitian tindakan kelas
(action research).
4. Literatur
Sebagai bahan acuan bagi penelitian lain,
yang melakukan penelitian sesuai dengan konteks penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitiun tindakan
kelas (action research) meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Alqur’an
Hadits dengan pengembangan desain
pembelajaran inquiry pada siswa kelas VIII
Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan, ini dirumuskan hipotesis sebagai bcrikut :
"Strategi pembelajaran dengan menggunakan pengembangan desain
pembelajaran inquiry dimungkinkan dapat meningkatkan cara membaca Al-qur’an siswa
kelas VIII
Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan pada mata
pelajaran Alqur’an Hadits pokoh bahasan cara membaca al-qur’an.”
F. Penegasan Istilah
Beberapa
istilah yang harus ditegaskan dalam penelitian ini, agar dalam pembahasan hasil
penelitian akan mengarah pada uraian yang lebih spesifik sesuai dengan ruang
Iingkup penelitian, diantaranya :
1. Inquiry
Inquiry merupakan salah satu komponen dari penerapan pendekatan
CTL (Contextual Teaching And Learning), yang berarti menemukan. Menurut Nurhadi
(2002) menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembela.jaran berbasis
CTL (Contextual Teaching And Learning.). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa
diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan
sendiri.
2. Motivasi Belajar
Motivasi dapat diartikan sebagai serangkaian usaha yang
muncul dari dalam diri seseorang, sehingga seseorang memiliki semangat untuk melakukan
sesuatu sesuai dengan harapan. Hoy dan Miskel (1987) menguraikan bahwa motivasi
itu terdiri dari tiga komponen dasar, yaitu mengaktifkan cara membaca Al-qur’an,
mengarahkan cara membaca Al-qur’an dan mempertahankan cara membaca Al-qur’an. Dengan
demikian motivasi berhubungan dengan kemana cara membaca Al-qur’an diarahkan
dan bagaimana mempertahankannya. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa
motivasi memegang peranan penting dalam mencapai hasil belajar.
Motivasi dan
prestasi hasil belajar dalam penelitian Tindakan Kelas (action research) ini
adalah motivasi dan prestasi hasil belajar siswa kelas VIII
Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan dalam
belajar mata pelajaran Alqur’an Hadits pokok bahasancara
membaca Al-qur’an.
3. Prestasi Belajar
Gagne yang dikutip oleh Badawi (1987) mengatakan bahwa
hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan tes, karena hasil belajar berupa
ketrampilan intelektual, startegi kognitif, informasi verbal, keterampilan, dan
nilai dan sikap.
Prestasi belajar yang dimaksudkan dalam
penelitian ini, adalah prestasi belajar mata pelajaran Alqur’an Hadits pada
siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatun
Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan Tahun
Pelajaran 2011/ 2012 pada semester II.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Motivasi Belajar
1. Difinisi Motivasi
Kurt
dan boone (1984) mengemukakan bahwa motivasi merujuk pada pengerahan daya
perilaku yang ditujukan pada pencapaian kepuasan kebutuhan.
Selanjutnya
Widayatun (1999) mengatakan bahwa motivasi itu mernpunyai arti dorongan atau
mengarahkan. Motivasi inilah yang mendorong seseorang untuk berprilaku
beraktifitas dalam pencapaian tujuan.
Dinald
yang dikutip oleh Hamalik (2001) mengatakan bahwa motivasi adalah motivation is
an energy change whitin the person characterized by affective arousal and
anticipatory goal reaction. Yang berarti motivasi adalah perubahan energi dalam
diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi
untuk mencapai tujuan.
Ada dua
prinsip cara memandang motivasi,
(l)
Motivasi dipandang sebagai proses
(2) Menentukan karakter dari proses ini dengan melihat
petunjuk-petunjuk dari cara membaca Al-qur’annya.
Dari beberapa pendapat tcrsebut, dapat disimpulkan bahwa
motivasi merupakan dorongan yang datang dari dalam pribadi seseorang
(intrinsik) ataupun datang dari luar pribadi (ektrinsik) untuk mencapai tujuan
sesuai dengan keinginan pribadinya.
2. Belajar
Belajar
merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara dasar oleh siswa untuk
mencapai tujuan. Winkel (1984) Mengatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas
mental dan psikhis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang
menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai
sikap.
Selanjutnya
Sukirin (1984) mengatakan bahw belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja
untuk merubah cara membaca Al-qur’an sehingga diperoleh kecakapan baru.
Hilgard
yang dikutip oleh Pasaribu (1983) berpendapat bahwa Learning in the process, by
wich an activity oreginites or is changed trough responding to a situation
provided the changed can not be attributed to growth or the temporary sate of
the organisme as in fatidue or under druges. Artinva belajar adalah suatu
proses kegiatan yang menghasilkan aktivitas baru atau perubahan kegiatan karena
reaksi lingkungan, perubahan itu tidak dapat disebut belajar apabila disebabkan
oleh perubahan atau kesadaran sementara, orang tersebut karena kelelahan atau
karena obat-obatan, sehingga orang tersebut tidak sadar tcrhadap keadaan
dirinya. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan pengetahuan, kecakapan dan cara
membaca Al-qur’an. Perubahan itu diperoleh dengan latihan dan pengalaman bukan
perubahan dengan sendirinya.
Selanjutnya
Usman (2002) Mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan cara membaca
Al-qur’an pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan
individu dengan lingkungannya. Menurut Burton (1944) berkaitan dengan pcrubahan
dalam belajar artinya seseorang setelah mengalami proses belajar mengajar, akan
mengalami perubahan cara membaca Al-qur’an, baik pengetahuannya, ketrampilannya
maupun aspek sikapnya.
Hamalik
(2002) mengatakan bahwa bela.jar adalah perubahan cara membaca
Al-qur’an yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman.
Masalah pokok yang dihadapi dalam belajar adalah bahwa proses
belajar tidak dapat diamati secara langsung dan kesulitan untuk menentukan
kepada terjadinya perubahan cara membaca Al-qur’an belajarnya. Untuk menentukan
kepada terjadinya perubahan cara membaca Al-qur’an tersebut hanya dapat
diketahui bila telah mengadakan penilaian. Itulah sebabnya penilaian dan
pengontrolan proses belajar dapat dilakukan bila proses belajar tcrsebut direncanakan
dalam desain system belajar yang cermat.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan cara membaca Al-qur’an yang
dilakukan secara sadar, baik itu perubahan pengetahuan, kecakapan dan
ketrampilan, dan perubahan tersebut dilakukan secara berkesinambungan.
2.
Motivasi Belajar
Motivasi merupakan salah satu unsur pokok dalam proses
belajar mengajar, Killer (1993) membedakan motivai beajar menjadi 2 kelompok,
yaitu motivasi yang ada dalam diri siswa dan motivasi yang ada dalam pembelajaran.
Untuk meningkatkan motivasi perlu dikembangkan desain pembelajaran yang sesuai.
Startegi penmbelajaran inquiry adalah salah satunva. Menurut Hamalik (2002)
motivasi belajar penting artinya dalam proses belajar siswa, karena fungsinya
yang mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar. Karena itu,
prinsip pergerakkan motivasi belajar sangat erat hubungannya dengan prinsip-prinsip
belajar itu sendiri.
Ada beberapa prinsip belajar dan motivasi yang disampaikan oleh Hamalik
(2002) agar mendapatkan perhatian dari pihak perencanaan pengajaran digunakan dalam
merencanakan kegiatan belajar mengajar. Prinsip tersebut dapat digunakan oleh pendidik dalam mengupayakan peningkatan motivasi
peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, sehingga didapatkan prestasi
belajar yang optimal. Diantaranya :
a. Kebermaknaan
pelajarn akan bermakna bagi siswa jika
guru berusaha menghubungkannya dengan pengalaman
masa lampau, atau pengalaman-pengalaman yang telah mereka miliki sebelumnya.
Sesuatu
yang menarik minat dan nilai tertinggi bagi siswa berarti bermakna
baginya. Oleh sebab itu, guru hendaknya berusaha menyesuaikan pelajaran dengan
minat para siswanya, dengan cara memberiknn kesempatan kepada para siswa
berperan serta memilih.
b. Modelling
Siswa akan suka memperoleh cara membaca
Al-qur’an baru bila disaksikan dan ditirunya. Pelajaran akan lebih mudah dihayati
dan diterapkan oleh siswa, jika guru mengajarkan dalam bentuk cara membaca
Al-qur’an model, bukan hanya dengan menceramahkan / menceritakan secara lisan.
Dengan model cara membaca Al-qur’an itu, siswa dapat mengamati dan menirukan
apa yang diinginkan oleh guru.
c.
Komunikasi Terbuka
Siswa lebih suka belajar bila penyajian
terstuktur supaya pesan-pesan guru terbuka terhadap pengawasan siswa
d. Prasyarat
Apa yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnya
mungkin merupakan faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan siswa dalam
belajar, karena itu hendaknya guru berusaha mengetahui/mengenali
prasyarat/prasyarat, akan mudah mengamati hubungan antara pengetahuan yang
sederhana yang telah dimiliki dengan pengetahuan yang kompleks yang akan
dipelajari.
e. Novelty
Siswa akan
lebih senang belajar bila perhatiannva ditarik oleh penyajian-penyajian yang
baru (novelty) atau masih asing.
f. Latihan / Praktek yang Aktif
dan Bermanfaat
Praktek secara aktif berarti siswa mengerjakan
sendiri, bukan mendengarkan ceramah dan mencatat pada buku tulis.
g. Latihan Terbagi
Siswa lebih senang belajar jika latihan
dibagi-bagi menjadi sejumlah kurun waktu yang pendek. Latihan yang demikian
akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dibandingkan dengan latihan yang
dilakukan sekaligus dalam jangka waktu yang panjang.
h. Kurangi Secara Sistimatik
Palcsaan Belajar
Siswa perlu
diberikan paksaan atau pemompa. Akan tetapi bagi siswa yang sudah mulai
menguasai pelajaran, maka secara sistematik pemompa itu dikurangi dan akhirnya
siswa dapat belajar sendiri.
i. Kondisi Yang Menyenangkan
Siswa akan lebih senang melanjutkan
belajarnya jika kondisi pengajarannya menyenangkan. ada beberapa cara yang
dilakukan guru untuk menyenangkan proses pengajaran diantaranya :
1.
Hindari pengulangan hal-hal yang
telah diketahui
2.
Suasana fisik kelas jangan
membosankan
3.
Hindarkan terjadi frustasi yang
dikarenakan situasi kelas
4.
Hidarkan suasana kelas yang
bersifat emosional sebagai akitbat adanya kontak personal
5.
Siapkan tugas menantang
6.
Berilah pengetahuan tentang hasil
yang dicapai siswa
7.
Beri hadiah / pujian yang pantas
dari usaha yang dilakukan oleh siswa.
B. Prestasi Belajar
Dalam Ensiklopedia (1971), prestasi merupakan
kata yang berdiri sendiri berarti produksi
yang dicapai oleh tenaga atau daya kerja seseorang dalam kurun waktu tertentu.
Pendapat lain disampaikan oleh Wood Worth
(1951) mengatakn bahwa prestasi (achievement) adalah actual ability and can be
measured directly hy use of test. Artinya : Prestasi menunjukkan suatu
kemampuan actual yang dapat diukur secara langsung dengan menggunakan tes.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa prestasi merupakan hasil kerja seseorang yang dapat dilihat
secara nyata oleh orang lain dan hasil kerja tersebut dapat diukur secara
langsung dengan tes.
Beraitan dengan prestasi, belajar akan lebih mudah dan
dapat dirasakan bila belajar tersebut mengetahui hasil yang diperoleh. Kalau belajar
berarti peruhahanperubahan yang terjadi pada individu, maka
perubahan-perubahan itu harus dapat diamati dan
dinilai. Hasil dari pengamatan dan penilaian inilah umumnya diwujudkan dalam
bentuk prestasi belajar.
Menurut Gegne yang dikutip oleh Badawi
(1987) mengatakan bahwa hasil belajar dapat diukur dengan menggunakan tes
karena hasil belajar berupa ketrampilan intelektual, startegi kognetit; informasi
verbal, ketrampilan, nilai dan sikap.
C. Strategi Pembelajaran
Strategi merupakan suatu upaya, cara
ataupun langkah-1angkah pendekatan untuk mencapai suatu tujuan secara optimal.
Strategi pembelajaran tersebut tercapai sesuai dengan pendekatan tujuaan yang
direncanakan.
Berdasarkan pada konteks penelitian ini
startegi pembelajaran diarahkan pada startegi ang berasosiasi dengan
pembelajaran kontekstual, diantaranya :
(1) Pengajaran berbasis masalah
(2) Pengajaran kooperatif
(3) Pengajaran berbasis inquiry
(4) Pengajaran berbasis tugas / proyek
(5) Pengajaran berbasis kerja
(6) Pengajaran berbasis jasa layanan.
(Nurhadi dan Senduk, 2003)
1. Pengajaran Berbasis Masalah
Pengajaran berbasis masalah
(problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang mengunakan masa1ah
dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara
berpikir kritis dan ketrampilan dari materi pembelajaran (Nurhadi Dan Senduk,
2003). Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat
tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk didalamnya belajar bagaimana
belajar.
Menurut Ibrahim dan Nur (2000) Mengatakan bahwa pengajaran
berbasis masalah dikenal dengan nama lain : Pembelajaran proyek, pembelajaran berdasarkan
pengalaman, pembelajaran autentik, dan pembelajaran berakar pada kehidupan
nyata. Peran guru dalam pengajararl berbasis masalah ini adalah menyajikan
masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Ada beberapa ciri pengajaran berbasis masalah, diantaranya :
(a) Pengajuan pertanyaan atau masalah
(b) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
(c) Penyelidikan autentik
(d) Menghasilkan produk/ karya dan memamerkannya.
Pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk membantu
guru dalam memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. pengajaran
berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan
berpikir, pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektual.
2. Pengajaran Kooperatif
Pengajaran kooperatif (Cooperative
Learning) memerlukan pendekatan melalui penggunaan kelompok kccil siswa untuk
bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi
belajar dalam mencapai tujuan (Hulubee, 2001 yang dikutip oleh Nurhadi dan
Senduk, 2003).
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran
yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari
ketersinggungan dan kesalah pahaman yang dapat menimbulkan permusuhan,
pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan sengaja
menciptakan interaksi yang saling mengasihi antar sesama siswa.
Abdurrahman dan Binton (2000) mengatakan bahwa
pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis
mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar
sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat nyata
.
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu
systim yang didalamnya terkandung elemen-elemen yang saling terkait, diantaranya
(a) Saling ketergantungan positif
(b) Interaksi tatap muka
(c) Akuntabilitas individual
(d) Ketrampilan
untuk menjalin hubungan antara pribadi atau ketrampilan sosial yang sengaja
diajarkan.
Meskipun
kerjasama merupakan kebutuhan manusia dalam kehidupan sehari hari, untuk
mengaktualisasikan konsep tersebut kedalam bentuk perencanaan pembelajaran atau
program suatu pelajaran bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan peranan
guru dan siswa yang optimal untuk mewujudkan suatu pembelajaran yang
benar-benar berbasis kerja sama.
3. Pengajaran Berbasis Inquiry
Da1am
pembelajaran dengan penemuan (inquiry) siswa di dorong untuk belajar sebagian
besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep konsep dan
prinsip-prinsip sendiri (Nurhadi dan Senduk, 2003).
Pembelajaran
dengan penemuan (induiry) menupakan suatu komponen penting dalam pendekatan
kontruksivistik yang telah memiliki sejarah panjang dan inovasi atau
pembaharuan pendidikan. Belajar dengan penemuan mempunyai beberapa keuntungan.
Pembelajaran dengan inquiry memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi
mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawabannya. Siswa
juga belajar memecahkan masalah secara mendiri dan memiliki ketrampilan kritis
karena mereka harus selalu menganalisa
dan menangani informasi.
4. Pengajaran Berbasis Tugas / Proyek
Pengajaran
berbasis proyek / tugas terstruktur membutuhkan suatu pendekatan pengajaran
komprehensif dimana lingkungan belajar siswa di desain agar siswa dapat
melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah autentik termasuk pendalaman
materi dalam suatu topic mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna
lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam
mengokstruk (membentuk) pembclajarannya,dalam produk nyata.
Ada empat
prinsip yang membantu siswa dalam perjalanan menjadi pembelajar mandiri yang
efektif: Diantaranya :
(a)
Membuat tugas bermakna jelas dan menantang
(b)
menganekaragamkan tugas-tugas
(c)
menaruh perhatian pada tingkat kesulitan, dan
(d)
memonitor kemajuan siswa.
5. Pengajaran Berbasis Kerja
Pengajaran
berbasis kerja memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang mcmungkinkan siswa
menguraikan konteks tempat kcrja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis
sekolah dan bagaimana materi tersebut digunakan kembali di dalam tempat kerja.
Mengajar
siswa di kelas adalah suatu bentuk
pemagangan, pengajaran berbasis kerja menganjurkan pentransferan model
pengajaran dan pembelajaran yang efektif kepada aktifitas sehari-hari di kelas,
baik dengan cara melibatkan siswa dalam tugas-tugas kompleks maupun membantu
siswa dalam mengatasi tugas.
6. Pegajaran
Berbasis Jasa Layanan
Pengajaran
berbasis jasa layanan memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang
mengkombinasikan jasa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah
untuk merefleksikan jasa layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara
pengalaman jasa layanan dan pembelajaran akademis.
Strategi
pembelajaran ini berpijak pada pemikiran bahwa semua kegiatan kehidupan dijiwai
oleh kemampuan melayani.
D. Inquiry
Inquiry merupakan salah satu komponen dan penerapan
pendekatan CTL (Contextual Taeching And Learning), yang berarti mcnemukan,
menurut Nurhadi (2002). Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan
pembelajaran berhasis CTL (Contextual Teaching And Learning). Pengetahuan dan
keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat
fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri, inquiry merupakan salah satu
dari lima
komponen penerapan pendekatan konstektual di kelas siklus inquiry sebagai
berikut :
(1)
Observasi (Observation),
(2)
Bertanya (Questioning)
(3) Mengajukan Dugaan (Hipothesis)
(4) Pengumpulan Data (Data Gathering) dan
(5) Penyimpulan (Conclusion).
Langkah-langkah kegiatan menemukan
(inquiry) adalah sebagai berikut :
(1) Merumuskan masalah
(2)
Mengamati dan melakukan observas
(3) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan,
gambar, laporan, bagan, tabel dan karya
lainnya, dan
(4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada
pembaca, teman sekelas, guru aGatheringtau audien lainnya.
E. Mata
Pelajaran Alqur’an Hadits, Pokok Bahasan Sifat Wajib Bagi Allah SWT.
Dalam pokok bahasan ini salah satu cara mempelajari Alqur’an
Hadits ialah dengan mengamati dan menghafalkan Sifat Sifat Wajib Bagi Allah.
Misalnya : Memahami pengertian beriman kepada Kitab-Kitab Allah, baik ketika
belajar di sekolah maupun di rumah.
Al-qur’an
menurut bahasa adalah bacaan. Menurut istilah, Al-Qur’an adalah firman Allah
SWT, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir. Dinamakan
Al-Qur’an karena merupakan kitab suci yang harus dibaca, dipelajari, dan merupakan
ajaran-ajaran wahyu terbaik.
Dalil/bukti kebenaran adanya kitab Al-Qur’an :
!$uZø9tRr&ur
y7øs9Î)
|=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ $]%Ïd|ÁãB
$yJÏj9
ú÷üt/
Ïm÷yt
z`ÏB
É=»tGÅ6ø9$#
Artinya :
Dan kami telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa
kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnyadan
menjaganya , …… (Q.S. Al-Maidah/5:48).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
a. Setting Penelitian dan
Karakteristik Subjek
Penelitian pada bagian ini
disebutkan, dimana penelitian tersebut dilakukan di Kelas VIII Semester I dan
bagaimana karakteristik dari kelas tersebut seperti komposisi siswa pria dan
wanita.
b. Variable Yang Diselidiki
Pada bagian ini ditentukan
variable-variable tersebut dapat berupa :
1.
Variable input yang terkait dengan
siswa, guru, bahan pelajaran, sumber belajar, prosedur evaluasi dan lingkungan
belajar.
2.
Variable proses pelanggaran KBM
seperti interaksi belajar mengajar.
c. Rencana Tindakan
Pada bagian ini digambarkan rencana
tindakan untuk meningkatkan pembelajaran :
1.
Perencanaan, yaitu persiapan yang
dilakukan sehubungan dengan PTK yang diprakarsai.
2.
Implementasi tindakan, yaitu
diskripsi tindakan yang akan di gelar,
scenario kerja tindakan perbaikan dan prosedur tindakan yang akan diterapkan.
3.
Observasi dan interpretasi, yaitu uraian tentang
prosedur-prosedur rekaman dan penafsiran data mengenai proses dan produk dari
implementasi tindakan perbaikan yang dirancang oleh guru MTs. Tarbiyatun
Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan.
4.
Analisis dam Refleksi, yaitu uraian
tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan di MTs. Tarbiyatun Nasyiin
Grujugan Larangan Pamekasan.dan refleksi berkenaan dengan proses dan dampak
tindakan perbaikan yang akan di gelar,
personil yang akan dilibatkan serta criteria dan rencana bagi tindakan daur
siswa berikut.
d. Data dan Cara Pengumpulannya
Pada bagian ini ditunjukkan dengan jelas jenis data yang
akan dikumpulkan yang berkenaan dengan proses maupun dampak tindakan perbaikan
yang di MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Pamekasan Kelas VIII, yang
akan digunakan sebagai dasar untuk menilai atau kekurang berhasilan tindakan
perbaikan pembelajaran yang di cobakan di MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan
Pamekasan. Format data dapat bias bersifat kualitatif, atau kombinasi keduanya.
e. Indicator Kinerja
Pada bagian ini tolak ukur
keberhasilan tindakan perbaikan ditetapkan secara explesit sehingga memudahkan
verifikasinya untuk tindakan perbaikan melalui PTK yang bertujuan mengurangi
kesalahan konsep siswa MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan Kelas VIII
Semester I, misalnya perlu ditetapkan criteria keberhasilan dalam bentuk
pengurangan ( jumlah jenis dan atau tingkat kagawatan ) miskonsepsi yang tampak dan patut diduga
sebagai dampak implementasi tindakan perbaikan yang dimaksud.
f. Tim Peneliti dan Tugasnya
Pada bagian ini hendaknya dicamtumkan nama- nama peneliti
dan uraian
tugasnya setiap anggota tim peneliti serta jam kerja yang dialokasikan setiap
minggu untuk kegiatan penelitian di MTs. Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan
Semester I.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Deskripsi
Hasil Peningkatan membaca persiklus
Dari
siswa yang di ambil di kelas VIII MTs Tarbiyatun Nasyiin Grujugan Larangan
Pamekasan dengan objek penelitian 6 (enam orang siswa) yang terdiri dari 3
(tiga) orang berjenis kelamin laki-laki dan 3 (tiga) orang berjenis kelamin
Perempuan dengan nama-nama sebagai berikut ;
NO
|
NAMA
|
ALAMAT
|
KELAS
|
1
|
Aang Fauzi
|
Larangan Luar
|
VIII
|
2
|
Fathor Rahman
|
Grujugan
|
VIII
|
3
|
Kusnandar
|
Lembung
|
VIII
|
4
|
Ana Fitriana
|
Grujugan
|
VIII
|
5
|
Firdusiyah
|
Larangan Luar
|
VIII
|
6
|
Mas’udah
|
Grujugan
|
VIII
|
Dari
tes perbaikan pembelajaran siklus I diperoleh data sebagai baikut
Tabel 1
Basil tes akhir perbaikan
pembelajaran Siklus I
Skor
|
Freknensi
|
%
|
80
|
1
|
3,2
|
75
|
3
|
9,6
|
70
|
5
|
16,1
|
65
|
6
|
19,3
|
60
|
9
|
29
|
55
|
7
|
22,5
|
Jumlah
|
31
|
100
|
Tabel diatas inenunjukkkan bahwa selebaran nilai
terakhir yang dicapai siswa berkisar antara 55 - 80, nilai tertinggi 80 (1
orang), terendah 55 (7 orang) dan rata-rata kelas 6,3. dari tabel diketahui
bahwa dari 31 orang siswa yang berhasil mencapai ketuntasan belajar (65%)
dengan nilai minimal 65 sebanyak 15 orang (48,2%), sedangkan 16 orang (51,8%
masih belum tuntas).
|
Dari hasil tes akhir diatas, menunjukkan bahwa
sekalipun penggunaan konsep dan perkalian memmjukkan adanya peningkatan pada
perbaikan pembelajaran siklus I akan tetapi secara keseluruhan masih jauh dari
tingkat pencapaian
Kriteria keberbasilan yang ditetapkan yaitu 70%
dari keseluruhan siswa (31 siswa) karena hmiya ada 15 orang siswa 41,8% yang
mencapai nilai minimal 65.
Hasil tes diatas, terjadi pula dengan basil
penilaian LKS, perbaikan pembelajaran pada sildus I diperoleh basil berikut
Tabel 2
Hasil penilaian LKS Perbaikan Siklus I
Skor
|
Frekuensi
|
%
|
80
|
2
|
6,42
|
75
|
3
|
9,6
|
70
|
4
|
12,9
|
65
|
7
|
22,5
|
60
|
15
|
48,3
|
55
|
-
|
0
|
Jumlah
|
31
|
100
|
Data hasil LKS pada tabel 2 diatas menunjukkan bahwa sebaran nilai
LKS berkisar antara 60-80. dari selebaran
tersebut diketahui pula bahwa nilai 60, 70, 75 paling banyak diiperoleh
siswa seperti terlihat pads tabel. 2 diatas sekitar 83,7%
sedangkan nilai terendah 60 (15 orang) dan nilai tertinggi adalah 80 (2 orang)
dan rata-rata kelas adalah 65.
Sementara dari basil pengamatan terhadap aktivitas,
partisipasi dan antusias siswa selama pembelajaran masih belum memperlihatkan kemajuan
yang berarti, siswa masih terlihat pasif, kurang konsentrasi dan masih cenderung
ramai. Ada kesan siswa kurang memperhatikan penjelasan penulis. Antusias siswa
dalam menyelesaikan tugas/LKS belum terlihat jelas, diduga siswa masih menemui
kesulitan perkalian, oleh karena itu pula kemampuan siswa menyelesaikan
soal-soal latihan dalam diskusi kelompok masih kurang maksimal. Dan tujuh
kelompok diskusi hanya. 3 kelompok yang dapat menyelesaikan dengan benar.
Dari refleksi penulis bersama teman sejawat diperoleh
data bahwa ketidak berhasilan dalam menyelesaikan soal dalam pembelajaran berlangsung
dan dalam tes akhir disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1)
Penjelasan
peikalian tidak menggunakan konsep dasar paimban, scbingga mash
banyak siswa yang belum mengerti dalam perkalian.
2)
Pada waktu guru menjelaskan
banyak siswa yang pasif, tidak bertanya walaupun masil belum mengerti.
3)
Pada waktu
guru menjelaskan banyak siswa kurang memperhatikan dan ramai berbicara
sendiri
4)
Siswa masih kurang mengerti tentang perkalian.
5)
Metode
pembelajaran kurang relevan, massih terli-hat monoton (lebih banyak-
ceramah).
Siklus
II
Dari hasil tes akhir perbaikan pembelajaran siklus II
diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 3
Hasil tes akhir
perbaikan pembelajaran siklus II
Skor
|
Frekuensi
|
%
|
100
|
2
|
6,45
|
95
|
3
|
9,67
|
90
|
5
|
16,12
|
80
|
7
|
22,58
|
75
|
5
|
16,12
|
70
|
5
|
16,12
|
65
|
4
|
12,90
|
Jumlah
|
31
|
100
|
Tabel 3 diatas menunjukan. bahwa sebaran nilai tes akhir
yang dicapai siswa pada Sikulus II berkisar antara 65 – 100. nilai tertinggi
100 (2 orang), nilai terendah 65 (4 orang) dan rata-rata kelas 8. dari tabel
itu pula diketahui 31 orang siswa (100%) mencapai ketuntas belajar (65%) dengan
nilai minimal 65 bila dibandingkan dengan perbaikan pembelajaran siklus I hasil
siklus II menunjukkan adanya peningkatan, baik lihat dari sebaran nilai (dari
55 – 80 menjadi 65 – 100); nilai tertinggi (85 menjadi 100); nilai terendah (55
menjadi 65) rata-rata. kelas (dari 6,3 menjadi 8) maupun dilihat dari ketuntasan
belajar siswa (dari 51,8% menjadi 100%).
Data yang sama diperoleh dari basil penilsian LKS seperti
pada tabel 4 berikut:
Tabel 4
Hasil penilaian LKS
Perbaikan Pembelajaran Siklus II
Skor
|
Frekuensi
|
%
|
95
|
4
|
12,90
|
90
|
6
|
19,35
|
85
|
7
|
22,58
|
80
|
5
|
16,12
|
75
|
5
|
16,12
|
70
|
4
|
12,90
|
Jumlah
|
31
|
100
|
Dari data basil penilaian LKS diats menunjukkan bahwa
sebaran nilau LKS pada siklus II berkisar antara. 70-95. dari sebaran tersembut
diketahui pula bahwa nilai 85 paling banyak diperoleh siswa, (7 orang atau
22,58%), dan antusias siswa selama pembelajaran yang memang memperlihatkan
kemajuan yang sangat berarti, dibandingkan pada siklus 1, siswa tidak lagi terlihat
pasif atau kurang konsentrasi, dan sekalipun masih ditemukan beberapa orang
siswa cenderung ramai, akan tetapi suasana kelas secara keseluruhan penulis dan
mulai banyak yang bertanya jika penjelasan penulis belum dipahami.
Antusias siswa dalam penyelesaian tugas individual atau
kelompok sudah tedihat jelas karena sudah mulai memahami konsep perkalian yang
sudah dilengkapi dengan contoh penyelesaian perkalian. Oleh karena itu Pula,
kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal latihan perkalian baik secara individu
maupun kelompok sudah maksimal. Dari 7 kelompok diskusi, hanya satu kelompok
yang masih salah dalam penyelesaian.
Hasil pengamatan, terhadap siswa ketika menyelesaikan
perhitungan selama proses pembelajaran (evaluasi dalam proses) banyak mengalami
kemajuan yang signifikan, dari 31 prang siswa hampir seluruhnya (27 orang atau
8,7%) yang menyelesaikan dengan benar, atau hanya ada 4 orang (12,9%) yang
masih salah.
Daei hasil refleksi penulis bersama teman sejawat,
diperoleh data babwa keberhasilan siswa dalam menyelesaikan soal selama.
pembelajaran berlangsung dalam tes akhir didukung oleh sejumlah faktor berikut
:
1)
Siswa sudah paham dan mengerti tentang konsep dasar
perkalian
2)
Pada waktu guru
menjelaskan siswa sudah menunjukkan sikap aktif, Saling berebut untuk menyelesaikan soal-soal yang
ditulis di papan tulis.
3)
Pada waktu pembelajaran berlangsung siswa juga mulai
banyak mengajukan pertanyaan apabila ada
penjelasan yang belum mengerti, dan tidak lagi ramai seperti pada siklus
I.
4)
Siswa mulai
memperhatikan penjelasan guru dengon contoh yang ditutis dipapan tulis,
Serta menunjukkan sikap senang terhadap pelajaran maternatika.
5)
Penjelasan guru
sudah diselingi dengan metode tanya jawab, pemberian tugas, dan menugaskan
siswa untuk menyelesaikan soal dipapan tulis.
B.
Pembahasan
Dari Setiap Siklus
Dari analisis dan
sajian siklus I dan siklus II yang diperoleh dari hasil pengamatan, penyelesaian
tugas/LKS dan tes akhir seperti dikemukakan diatas tampak bahwa perbaiikan
pembelajaran menggunakan konsep dasar perkalian
menunjukkan hasil sangat menggembirakan dan memenuhi harapan penulis.
Jika sebelum perbaikan pembelajaran siswa menampakkan sikap pasif tidak bertarrya walaupun belum mengerti,
kurang memperhatikan dan ramai, berbicara sendiri ketika guru
menjelaskan, kesulitan untuk mengerti tentang
perkalian dan menunjukkan sikap kurang senang terhadap pelajaran matematika., maka setelah dua kali siklus
perbaikan pembelajaran, telah terjadi perubahan sikap siswa selama
pembelajaran terutama sikap siswa terhadap
mata pelajaran matematika.
Tingkat
kebenaran penyelesaian soal-soal latilan selama pembelajaran melalui pemberian tugas/LKS juga mengalami kenaikan yang tinggi
seperti dapat dilihat pada Tabel berikut :
Tabel 5
Perbandingan hasil
penilaian LKS antara siklus I dan Sildus II
Siklus I
|
Siklus H
|
Kenaikan
|
|||||
Skor
|
F
|
%
|
Skor
|
F
|
%
|
skor
|
|
Tertinggi
|
80
|
2
|
32
|
100
|
2
|
6,45
|
20
|
Terendah
|
60
|
15
|
22,5
|
65
|
4
|
12,90
|
10
|
Rata-rata
|
6,5
|
6,5
|
17,9
|
||||
Peralihan hasil tes akhir selama dua kali siklus
pembelajaran, juga menunjukkan adanya penmgkatan yang sangat berarti, seperti
pada tabel berikut:
Tabel 6
Perbandingan basil tes akhir antara siklus I dan
siklus 11
Siklus I
|
Siklus II
|
Kenaikan
skor
|
||||||
Skor
|
F
|
%
|
Skor
|
F
|
%
|
|||
Tertinggi
|
80
|
1
|
3,2
|
100
|
2
|
6,45
|
20
|
|
Terendah
|
55
|
7
|
22,5
|
65
|
4
|
12,90
|
10
|
|
Rata-rata
|
63,02
|
80,00
|
16,98
|
|||||
Ketuntasan
|
15 (48,3%)
|
31 (100%)
|
16
|
(51,6%)
|
||||
Berdasarkan temuan
diatas, pembelajaran matemarika di SD banyak tidak menggunakan konsep dasar
perkalian, padahal dengan menggunakan konsep dasar perkalian perbaikan
pembelajaran hasiInya sangat menggembirakan dan memenuhi harapan penulis untuk
meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran
matematika.
BAB V
PENUTUP
A. Jadwal Penelitian
Jadwal kegiatan penelitian disusun dalam matrik yang
menggambarkan urutan kegiatan dari awal sampai akhir di MTs. Tarbiyatun Nasyiin
Grujugan Larangan pada tanggal 02 Januari 2012 jam : 08.00 – 12.00 WIB.
B. Rencana Anggaran
Meliputi dukungan kebutuhan financial sebaesar Rp.
150.000,- untuk tahap persiapan, pelaksanaan penelitian dan pelaporan.
C. Lampiran-lampiran
Bagian lampiran dapat berisi curriculum vitae ketua dan
para anggota tim inti. Curiculu vitae tersebut memuat identitas ketua anggota
tim peneliti, riwayat pendidikan pelatihan dibidang penelitian yang pernah
diikuti, baik sebagai penatar atau pelatih maupun sebagai peserta, dan
pengalaman dalam penelitian termasuk di PTK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar